CUKUPLAH ALLAH

Dikutip dari kolom Hikmah oleh Ustaz Yusuf Mansur Harian Republika, Rabu, 3 oktober 2012

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu panggil, kecuali Dia….” (QS al-Israa: 67)

Biasakan hanya Allah. Biasakan hanya bersandar kepada Allah. Biasakan hanya perlu dan memohon kepada Allah swt.

Menjelang tahun 2000, saya mendatangi kawan yang tinggal di Bogor. Sekitar 14 jam perjalanan bolak-balik dari Ketapang ke Bogor dan dari Bogor ke Ketapang. Saat itu tidak ada kemdaraan pribadi. Niat saya hanya satu, mau pinjam uang dengan kawan saya ini sebesar Rp 30 juta.

Sesampainya di sana, Allah mengajarkan saya melalui pemandangan yang sedang saya lihat. Toko yang sekarang jadi rumah kawan saya ini sedang dalam proses sita. Saya yang datang ingin meminjam, menjadi tertegun. Ternyata dia mendapat masalah. saya yang dalam keadaan serbasalah, sempat ditanya olehnya. ” “Makasih ya Suf, mau datang. Yah, beginilah hidup. Ngomong-ngomong, ada perlu apa nih?” ujarnya.

Saya jawab sambil berusaha senyum, ” He he, mau pinjam tadinya….” kata saya. Spontan, dia pun langsung bertanya, “Berapa?”kata dia. Dan sayapun langsung menjawab ingin meminjam sebesar Rp 30 juta. Mendengar jawaban saya, dia pun langsung tertawa seraya berkata, ” Sama Suf, Saya juga butuh segitu.” jawabnya.

Pelajaran yang berharga buat saya. Jika mendatangi orang, ya kayak gitu deh. Bisa membantu pun belum tentu sesungguhnya bisa membantu. Hanya allah semata yang kalau kita datangi, Dia yang tak punya masalah, Dia nggak punya beban, Dia nggak punya kesulitasn, dan Dia selalu menerima tanpa bosan, tanpa menggerutu, tanpa mengeluh ketika seringnya kita datang.

Hanya Dia, yang jika Dia menyapa kita dengan ujian dari-Nya, lalu Dia ingin mendengar rintihan kita. Allah ingin mendengar doa kita. Rintihan dan doa dari seorang yang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu dan tidak ada yang bisa menolong kecuali Dia. Rintihan dan doa yang datang dari seorang hamba yang mengetahui bahwa Dia pasti bias membantu dan tidak ada Tuhan yang disandarkan lagi seluruh persoalan kecuali kepada-Nya.

Pengalaman berharga menjelang tahun 2000 itu, membuat saya berpikir sesal namun senang. Mengapa saya datang jauh-jauh kepada manusaia? Tapi saya tidak menyesal. Saya jadi tahu, memang saya salah datang. Saya datang kepada manusia yang pastinya sama-sama punya masalah, punya kebutuhan dan keperluan.

Alhamdulillah, Allah yang Maha Memberi hikmah. Sejak saat itu saya memosisikan diri seperti orang yang sedang terkena badai di tengah lautan, langsung memanggil dan memohon kepada Allah, dan hanya Allah. Sebab memang tiada yang lain.

Untuk itu, wahai saudaraku, segeralah temui Allah. Allah ada di masjid, segeralah ke masjid, shalat berjamaah tepat waktu. Kembali lagi baca Alqur’an, keluarkan sedekah di saat sulit atau sedang lapang, dan cintai ibadah-ibadah sunah. Terima seluruh kesulitan dan kesusahan dengan penuh keikhlasan dan rida (mengharap) hanya kepada-Nya. Wallahu a’lam.

Pakaian dan Makanan ala Budaya Indis

Saat ini ketika kita memakai jas safari, gaun, bersepatu pantofel, kemudian makan menggunakan piring dan menyuap makanan dengan sendok atau segala perkakas terbuat dari kaca atau keramik, hal ini sudah kita anggap lumrah. Perlengkapan dan perkakas ini sudah terintegrasi dalam keseharian kita. Perlu sekiranya untuk melihat  kebelakang, saat negara ini berada dibawah kolonialisme Belanda tidak hanya berbicara peperangan, penaklukan wilayah, pengurasan sumber daya alam, kerja paksa dan sendi-sendi kehidupan yang lainnya. Pertemuan budaya yang berbeda, membentuk sebuah pola dan tampilan baru di kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Interaksi budaya ini kemudian dikenal dengan budaya Indis.

Kebudayaan Indis yang terbentuk setelah interaksi budaya dalam kurun beberapa ratus tahun diantaranya mencakup ke dunia fashion, perkakas, dan makanan. Terbentuknya kebudayaan baru ini menurut Sartono Kartodirdjo tidak terlepas dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Dari rangkaian ini menghadirkan suasana baru dan persilangan tradisi yang mengharmonisasi menjadi gaya hidup baru. Dalam keseharian kita saat ini, begitu banyak hasil kebudayaan Indis ini yang kita sandang dan sudah menjadi nilai dalam masyarakat kita. 

Kedatangan Belanda pada abad ke-17 dan Inggris yang pernah bercokol di sebagian wilayah Indonesia pada abad ke-18 membawa perubahan yang cukup berarti. Praktek kelas sosial yang diberlakukan oleh bangsa Eropa memang menimbulkan jurang pemisah, tapi pada kalangan tertentu tradisi yang dijalankan bangsa Eropa diserap menjadi kebudayaan baru Pribumi dan begitu juga sebaliknya. Saling ketergantungan terjadi antar dua budaya yang berinteraksi dan membentuk pola baru. Dalam dunia fashion (pakaian) membawa corak baru bagi pribumi dan bangsa Eropa. 

Fashion 

Inggris ketika berkuasa di tanah Jawa pada masa Gubernur Jenderal Raffles (1811-1816) dalam waktu singkat berhasil mengubah wajah dunia pakaian pribumi. Melalui surat kabar, Raffles menancapkan norma-norma ala Eropa di tengah-tengah masyarakat Jawa. Wanita Eropa terlarang mengenakan kebaya, tidak beralas kaki, duduk di lantai sebagaimana halnya tradisi masyarakat pribumi. Penetapan norma ini, menginternalisasi nilai berpakaian ala Eropa. 

Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa memaparkan persentuhan budaya ini menjadikan masyarakat Hindia mulai mengenakan pakaian ala Eropa. Memakai sepatu, mengenakan celana panjang dan berjas bagi kaum pria priyayi, mengenakan gaun bagi perempuan adalah bentuk berpakaian seperti bangsa Eropa. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat pribumi dalam berpakaian bisa dikatakan tidak mengenal pembedaan pakaian untuk aktivitasnya. Interaksi dengan budaya Barat, membawa perubahan gaya hidup berpakaian masyarakat Hindia.

Pada perkembangannya di abad ke-19 hingga ke-20 gaya berpakaian ini dipadu padankan dengan cara berpakaian tradisional pribumi. Terjadinya perkawinan antara bangsa Eropa dan bangsa Pribumi yang melahirkan keturunan indo menjadi sarana percampuran tradisi berpakaian ini. Sering ditemui dalam berbagai dokumentasi, lelaki berparas Eropa yang hidup bersama seorang Nyai memakai beskap Jawa dan terkadang juga dilengkapi dengan blangkonnya. 

Dalam adegan film Sang Pencerah, dimana Kyai Ahmad Dahlan dalam beraktifitas di organisasi Muhammadiyah terkadang berpenampilan ala lelaki Jawa dan adakalanya berpakaian seperti meneer Belanda. Begitu juga dengan siswa-siswa yang beliau didik di sekolah Belanda, pakaian yang digunakan kombinasi antara pakaian tradisional Jawa dan pakaian bangsa Eropa. Inilah salah satu fragmen gaya hidup kebudayaan Indis yang terbentuk di wilayah Nusantara.  

Hal ini mencerminkan bahwa terjadi interaksi dan percampuran budaya dalam berpakaian. Saat ini, lelaki bersepatu, menggunakan jas, berdasi, rambut rapih dengan wewangian atau perempuan dengan gaun Eropa dengan sepatu high heels dan dilengkapi dengan asesorisnya sudah lumrah kita temui. Bahkan dalam kondisi tertentu, akan terlihat aneh jika pakaian yang digunakan tidak sesuai dengan agenda dan kondisi yang sedang dijalani. Dalam dunia fashion, kolonialisme telah mengintegrasikan gaya hidup barat untuk masyarakat modern Indonesia.

Dari Ayam Zwatzuur hingga Meja Prasmanan

Sejarawan gastronomi, Fadly Rahman dalam bukunya membuktikan bahwa makanan dan minuman serta penyajiannya juga mendapat pengaruh dari kebudayaan Indis. Pada masa sebelum intensnya interaksi antar pribumi dan orang-orang Eropa, budaya makan masyarakat Indonesia cenderung terlihat lebih sederhana. Duduk di lantai ketika makan, makanan disajikan dengan daun pisang atau piring kayu, mencuci tangan agar makanan yang disuap tidak lengket merupakan tata cara makan tradisional pribumi. 

Persentuhan budaya makan akan terlihat pada penyajian yang dikenal dengan rijsttafel, penggunaan peralatan makan, dan variasi menu yang dihidangkan. Pola makan makan dari rijsttafel ini dalam kesehariannya dimulai dengan minum kopi dan sarapan daging dan telor di pagi hari. Saat jam makan siang dihidangkan nasi dengan panganan Nusantara yang dilanjutkan dengan hidangan Eropa. Sore hari adalah waktunya minum teh. Sedangkan malam hari, mereka akan menyantap hidangan Eropa.

Budaya makan ini menjadi memasyarakat setelah restauran dan hotel-hotel mulai k menyajikan makanan ala rijsttafel. Menu yang dihidangkan  bercitarasa Barat dan Nusantara serta dihidangkan dengan cara penyajian Eropa. Ciri khas yang tampak dari penyajian ini diantaranya penggunaan jasa pelayan dari kalangan pribumi yang lengkap dengan seragam khasnya. Penggunaan peralatan makan seperti sendok, garpu, pisau, piring adalah bentuk dari rijsttafel ketika mulai memasyarakat. Budaya ini semakin populer pada awal abad ke-20, dimana hotel ternama seperti Des Indes di Batavia dan Savoy Homan di Bandung menyuguhkan rijsttafel sebagai layanan andalannya. 

Budaya makan rijsttafel membawa warna baru dari menu makanan yang ada di Indonesia. Pada saat ini sudab lazim kita mendengar panganan ayam suar-suir (zwartzuur), perkedel (frikadel), bistik (biefstuk), sup (soep), semur (smoor), dan lain-lain. Nama-nama sebagian kecil dari makanan pilihan yang lahir dari sentuhan hidangan Belanda setelah mengalami percampuran dan adaptasi bahan. Makan bersama yang di hidangkan pada meja bulat atau panjang dan meja prasmanan juga bentuk khas penyajian dari rijsttafel. 

Kemunculan budaya Indis tidak hanya pada seputar pakaian dan makanan. Bidang-bidang lain juga mendapat pengaruh budaya Indis di Indonesia. Arsitektur, seni pertunjukan, aktivitas harian, upacara pernikahan, dan sendi-sendi kehidupan lainnya mendapat pengaruh budaya Indis. Sesuai dengan awal mula kemunculannya sebagai penguat identitas sosial seseorang, saat inipun budaya Indis menjadi alat untuk menunjukkan status sosial seseorang atau kelompok yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Jadi, dari gaya hidup dan aktivitas harianmu apakah kamu bagian dari budaya Indis?

Diskusi Asad Tentang Akhir Zaman

​Muslim yang beriman mestinya tunduk dan taat akan rukun iman. Salah satu rukun iman adalah percaya kepada hari akhir. Hari dimana diluluh lantakkannya alam semesta. Dalam Al-qur’an maupun hadits nabi, penanda akan datangnya hari kiamat adalah munculnya Dajjal. Sewaktu masih kecil, kisah keluarnya Dajjal dari persembunyiannya dan kemudian menyesatkan ummat manusia rata-rata kita mendapat paparan yang sama. Dimulai dengan ciri-ciri Dajjal memiliki mata satu, berambut ikal, di keningnya terdapat tulisan “Dajjal”, dari tangannya bisa mengeluarkan air yang menjadi kamuflase untuk menyesatkan ummat manusia termasuk orang-orang yang beriman. Kira-kira seperti itu yang Anda dapatkan bukan? 

Seiring berjalannya waktu, dengan mengikuti pengajian saat menjejak perguruan tinggi, pemahaman saya soal kemunculan Dajjal menimbulkan pertanyaan. Pokok pertanyaan tersebut berupa,”apakah Dajjal berupa makhluk seperti manusia dalam cerita yang kita dapat saat usia mengaji di TPA?”. Dalam imaji liar saya menjawab bahwa Dajjal itu mungkin bukanlah makhluk yang bermata satu, bertubuh tinggi tegap tetapi bentuk sistem kekuatan yang dijalankan oleh banyak orang. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai kekuasaan Dajjal,”Apakah dajjal memiliki kekuasaan seperti mengeluarkan air dari ujung jarinya seperti halnya pesulap dengan melakukan beberapa trik?” dengan adanya beberapa fenomena seperti adanya warga India yang bisa mengeluarkan air dari ujung jarinya dan kemudian mendatangkan banyak pengikut, awalnya saya mempercayai bahwa fenomena ini menunjukkan Dajjal telah datang dalam bentuk sosok manusia. 

Menginjak pada titik ini, saya menemukan jawaban buram. Akal saya tidak sampai untuk menuntaskan jawaban ini. Dalam autobiografi spiritual Muhammad Asad atau Leopold Weiss, terdapat bahasan menarik dan saya merasa ini salah satu rangkaian puzzle jawaban sosok dajjal. Hal ini tentunya akan berhubungkait dengan keimanan kita akan hari akhir.  Bahasan mengenai Dajjal ini terjadi saat Asad hadir dalam majelis seorang ulama yang menjadi pusat incaran orang-orang Nejed untuk mendapatkan pengajaran dan hikmah, ulama itu bernama Syaikh Ibnu Bulaihin. 

Berikut adalah penuturan Asad mengenai Dajjal dalam The Road to Mecca.

—————

Tatkala ia melihat dengan pandangan bertanya-tanya di matanya, saya menengok untuk meminta persetujuan Ibnu Bulaihin yang kemudian mengiyakan, akan ramalan atas wujud makhluk menyilaukan, yang sebelah matanya butam tetap dikaruniai tenaga misterius yang diperolehnya dari Tuhan. Ia dapat mendengar dengan telinganya apa yang dikatakan di pojok dunia paling jauh serta melihat denngan sebelah matanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di kejauhan tak terkira. Ia akan terbang berhari-hari lamanya mengelilingi bumi, akan mengumpulkan emas dan perak yang muncul sekonyong-konyong dari perut bumi, mengadakan hujan, dan tanaman tumbuh atas perintahnya, membunuh serta menghidupkan kembali; sehingga si lemah-iman bersujud memujanya. Tetapi mereka yang imannya teguh akan membaca tulisan berkilat-kilat di dahinya: pengingkar Tuhan, dan karenanya akan tahu bahwa dia hanyalah tipuan untuk menguji iman manusia. 

Sementara sang sahabat Badui itu ternganga seraya berkomat-kamit, “Tuhan Maha Penolong,” saya berpaling kepada Ibnu Bulaihin. 

“Bukankah itu merupakan sebuah kiasan, wahai Paman, yang sesuai dengan peradaban teknologi modern? Dia ‘bermata satu”, yakni bahwa dia hanya melihat dari segi kehidupan – kemajuan materiil – dan tak sadar akan segi spiritualnya. Dengan bantuan keajaiban-keajaiban mekanisnya, memungkinkan manusia melihat serta mendengar jauh dari kemampuan fitrahnya, serta melenyapkan kejauahan yang tak terukur dengan kecepatan yang tak masuk akal. Pengetahuan ilmiahnya menyebabkan “hujan turun dan tanaman tumbuh” – dan membongkar kekayaan yang tak ternilai dari dalam bumi. Obat-obatannya membawa hidup bagi mereka yang tampaknya telah mati, sedangkan peperangan dan kedahsayatan ilmiahnya menyebar maut membinasakan hidup. Kemajuan materiilnya demikian unggul dan menyilaukan sehingga si lemah iman akan percaya bahwa itu adalah kepala tuhan yang sejati. Namun, mereka yang tetap sadar akan Pencipta sebenarnya dengan tandas mengakui bahwa pemujaan mereka kepada dajjal berarti pengingkaran terhadap Tuhan. 

Kemajuan manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah anugerah dan pemberian Tuhan, banyak rakyat kita yang oleh kecongkakan diri mulai berpikir bahwa semua itu merupakan tujuan dan kemudian menobatkannya untuk disembah. 

—– 

Kira-kira kemana prediksi ini mengarah? Asad menunjukkan ramalan akhir zaman kepada manusia Barat. Mereka telah menyerahkan diri untuk menyembah dajjal. Telah lama mereka lalai akan kekeliruan ini dan punahlah integrasinya dengan alam. Bagi mereka, hidup telah menjadi teka-teki. Mereka menjadi apatis dan karena itu terpencil dari saudara serta merasakan kesepian dengan diri mereka sendiri. 

Mereka memenangkan hidup secara fisik. Ketenangan batin sudah jauh ditinggalkan, orientasi metafisik telah hilang. Setiap hari mesin-mesin dan teknologi baru muncul seakan menghadirkan nyawa baru dan memperpanjang masa hidup. Tetapi, dari penemuan-penemuan tersebut menciptakan kegelisahan baru dan bahaya-bahaya baru. Jiwa mereka lenyap dalam putaran roda kerja mesin yang terus membangun, semakin khayali dan semakin berkuasa. Tujuan asli hilang berubah wajah menjadi tuhan itu sendiri, menjadi dewa baja yang rakus.

Lantas, kita ada di posisi mana?

Sentimen Anti-China

Iklim politik kita hari ini panas dingin, ibukota sebentar lagi mengadakan perhelatan pemilihan Gubernur. Beberapa waktu kebelakang muncul kontroversi dari salah satu calon Gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama mengeluarkan pernyataan yang bernada melecehkan kitab suci dengan menyinggung-nyinggung salah satu ayat Al-Qur’an. Sontak pernyataan ini mendapat reaksi dari ummat Islam, tidak hanya di Jakarta tapi hampir merata diseluruh Indonesia. Saat ini, gabungan seluruh muslim menuntut agar sikap dan tindakan Basuki diproses secara hukum. 
Seiring dengan polemic ini, juga muncul kepermukaan sentimen Anti-China dikarenakan Basuki berasal dari etnis Tionghoa. Jika diamati, sentimen ini berada pada titik panas dikalangan muslim. Benarkah? Mungkin pembaca bisa memastikannya sendiri. Apakah sentimenil ini hanya muncul pasca Basuki melecehkan ayat Al-Qur’an? Jika kita tarik lagi kebelakang, sikap anti terhadap etnis tertentu sudah lama ada dan isu yang selalu bergulir, baik ketika ada event politik ataupun tidak. Saat pilpres 2014 pun, isu Anti-China juga menjadi bagian iklim panas pilpres. 

Hujatan-hujatan pedas menolak keberadaan etnis Tionghoa dalam kehidupan bernegara muncul dalam berbagai bentuk Bahasa. Pada intinya ada pada penolakan berada dibawah kekuasaan etnis Tionghoa, pada politik, ekonomi, sosial, budaya dan sektor-sektor lainnya. Isu ini semakin memanas dikalangan masyarakat Indonesia setelah diketahui pada beberapa daerah ditemuinya pekerja asing yang berasal dari negeri Tiongkok atau China. Prasangka-prasangka bermunculan, ada yang mengatakan negara kita akan di okupasi oleh etnis Tionghoa dengan secara perlahan mendatangkan pekerja dari negeri Tirai Bambu. Seiring dengan itu, Ibukota saat ini juga sedang melaksanakan proyek reklamasi di Pantai Utara Jakarta. Di negeri Tirai Bambu sendiri beredar tayangan iklan promosi pulau reklamasi yang sedang berjalan. Desas-desus pencaplokan wilayahpun semakin santer di sebagian masyarakat Indonesia. Kejadian-kejadian tersebut merupakan bagian berbagai fragmen yang menyebabkan legitimasi sentimen anti-China menyulut reaksi publik. 

.

Kedewasaan Menanggapi Isu

Kecanggihan teknologi informasi kita, membuat isu ini semakin viral. Respon dalam bentuk hujatan, propaganda, dan obrolan anti kepada etnis Tionghoa tak ada putus-putusnya. Tapi, apakah dengan memperpanjang bahasan isu sentimen anti-China ini, termasuk propaganda upaya pengusiran terhadap etnis ini –pada titik ekstrim- menjadi solusi dan masalah akan terselesaikan? Sebuah pertanyaan bagi kita semua, apa dasar yang menguatkan sentimen anti-China sehingga isu ini logis dan layak kita angkat? Sebagian intelektual berpendapat hal ini membuat iklim politik dan keharmonisan antar etnis guncang dan mengarah kepada disintegrasi bangsa. Demokrasi yang berupaya mengayomi berbagai elemen bangsa tidak lagi sehat, kondisi perpolitikan akan tampak runyam. Hal-hal substansi terkait kemashlahatan bersama terabaikan, sehingga cita-cita menjadi bangsa yang madani hanya akan selalu ada diatas kertas tapi minim implementasi.

Pada kondisi ini, perlu kedewasaan dalam menghadapi isu. Kemarahan dan emosi menghilangkan rasionalitas dan logika, walhasil melekatlah titel manusia ‘sumbu pendek’ kepada kita yang gusar dan tersulut. Seperti kata para tetua, sebagai manusia yang dianugerahi akal dan pikiran sebaiknya kita bisa pilah dan pilih mana masalah yang pokok dan mana masalah yang mesti diabaikan. Sebagai masyarakat yang selalu memperhatikan perkembangan dan menjadi bagian dari dinamisasi polekososbud Indonesia, pertentangan rasial, agama dan etnis lebih bijak ada ruang pembahasan khusus. Apalagi kita hidup selalu memegang teguh nilai keagamaan. Dalam Islam, hal ini memiliki dasar kuat untuk tidak menguar pertentangan rasis seperti yang termaktub didalam Al Qur’an 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti” (Q.S Al – Hujurat: 13).

Darisini kita dituntun menjadi manusia dewasa yang bisa memilah-milah berbagai isu dan permasalahan serta meletakkannya pada tempat yang benar dan pas, sehingga tidak memperlebar pertentangan. Masalah pelecehan ayat Al Qur’an, kita sudah diatur dalam regulasi penistaan agama, hal ini tinggal dijalankan sesuai aturan mainnya. Seperti kata Kang Eep, jadilah ummat yang responsive bukan reaktif. Masalah kedatangan tenaga kerja asing dan kekhawatiran akan dicaploknya wilayah negara ini, justru kita mesti melihat kepada daya saing tenaga kerja yang harusnya kurang kompetitif dan adanya celah pertahanan negara yang bisa disusupi. Keadaan seperti ini menjadi pekerjaan rumah bersama, selaiknya kita urun ide bukan menyebarluaskan ketakutan dan propaganda. Begitupun dengan isu dan sentimen Anti-China pada bidang yang lain, mesti cerdas pilah-pilih masalah.

Keberadaan etnis China tidak bisa kita tolak dan ini merupakan sunnatullah. Apakah kita akan menentang ‘keputusan’ ini? Sepertinya kita akan menjadi ingkar terhadap keberadaan ayat Al Hujurat ayat 13 jika masih ngotot menentang keberadaan Etnis Tionghoa atau etnis-etnis lain yang berbeda dengan kita. Mari hidup dalam kebhinekaan dengan memegang teguh nilai Pancasila dan menggenggam erat keyakinan masing-masing sebagai pedoman, bersama dalam satu tujuan Indonesia yang madani, adil, makmur, sejahtera. 

Imaji Sore

yandri_rama

Surau dan Perkembangan Manusia Minangkabau

Minangkabau merupakan entitas budaya Indonesia dengan nilai khas dan berbeda dengan entitas budaya etnis lain. Berbicara Minangkabau kita tentunya sudah akrab dengan diksi matrilineal, hukum adat, merantau, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, surau dan istilah lain yang menjadi identitas etnis ini.  Salah satu bagian unik yang sudah menjadi satu bagian dari Minangkabau adalah surau. Surau tempat beribadah muslim yang ukurannya lebih kecil dari masjid, di daerah lain lazim disebut dengan mushola. Pembeda surau dengan mushola tampak dari fungsinya. Zaman dulu, surau adalah rumah, madrasah, tempat berlatih dan mengaji bagi pemuda Minang. Surau adalah tempat menggodok pemuda Minang yang sudah akil baligh, mereka tidak lagi diperkenankan lalok di katiak amak (tidur di rumah orang tua).
Pembahasan tentang surau sepertinya memiliki wacana yang luwes untuk dikaji. Hasil dari penglihatan soal surau ini bisa kita arahkan simpulan pembentukan manusia Minangkabau. Dari sisi sejarah kita membahas rentang waktu eksistensi surau, dari siapa, kapan dan untuk apa surau hadir. Sudut pandang sosiologis kita bisa memahami korelasi keberadaan surau dengan realita kehidupan masyarakat. Dalam kacamata antropologi dapat kita melihat manusia-manusia seperti apa yang dihasilkan oleh surau. Pada arsiteknya pun kita akan mendapat informasi menarik menyoal surau ini.

Surau Dalam Rentang Sejarah
Minangkabau identik dengan Islam dan penyokong identitas ini adalah adanya surau dalam lingkungan suatu kaum. Tapi jika kita bisa menelusuri, surau ternyata bentuk akulturasi budaya hindu dan Islam. Surau merupakan milik kaum dengan fungsi awalnya sebagai asrama bagi laki-laki bujangan dan duda. Fungsi ini kemudian berkembang tidak hanya sebagai asrama.
Wisran Hadi menuliskan, surau berasal dari kata Surawa. Kata ini berasal Sarawasa atau Swarwa yang telah dikenal saat raja Adityawarman berkuasa. Saruaso atau dalam bahasa lamanya Sarawasa diartikan tempat yang khusus dibuat untuk pertapaan. Secara istilah, surau, sarawasa atau swarwa berarti segala, semua, macam-macam. Maksudnya adalah tempat dimana kita bisa melakukan segalanya dalam hal ini pendidikan, pengetahuan dan pengembangan diri.
Batu Bapaek menjadi bukti sejarah surau. Batu Bapaek adalah sebuah saluran air yang melewati batu yang dipahat untuk mengairi persawahan. Pada pahatan batu saluran air tersebut ditemukan tulisan kuno tentang raja Adityawarman, yang bagi ahli sejarah disebut sebagai Prasasti Saruaso I. Dalam struktur komplek Istana Pagaruyung, surau memiliki tempat tersendiri yang terpisah dari Rumah Gadang.
Sejarah lain dari cikal bakal surau adalah Masjid raya Limo Kaum, berlokasi di Jorong Balai Batu Tanah Datar, konon merupakan tempat pertapaan sebelum Islam masuk di Minangkabau. Masjid yang berdiri sekitar pertengahan Abad ke-17 ini diperkirakan salah satu cikal bakal surau setelah masuknya Islam. Surau yang menjadi tempat bertapa bagi orang Minang zaman Hindu-Budha beralih fungsi menjadi tempat sholat, secara harfiah, setelah ajaran Islam ada di Minangkabau.
Bentuk dari bangunan Masjid ini tampak adanya sinkretisme budaya, antara budaya Hindu-Budha dan Islam. Atap yang menjulang dari masjid ini lebih menyerupai pagoda, memiliki tingkatan.  Awal mula bangunan surau ini masih berupa bangunan dengan alas batu tanpa dinding dan atap. Masuknya Islam membawa perubahan terhadap keberadaan surau dan beberapa kali lokasi surau ini dipindahkan. Karena semakin banyaknya pemeluk Islam dan kapasitas surau tidak memadai, secara swadaya surau ini dibangun dan beralih fungsi menjadi masjid raya Limo Kaum. Hal ini sesuai dengan adat Minang yang bersifat terbuka dan termaktub dalam mamangan Nan elok dipakai, nan buruak dibuang (yang baik dipakai, yang buruk dibuang). Ketika Islam masuk dan menjadi jalan hidup orang Minang, keberadaan surau bertahan dan fungsinya berkembang menjadi wadah kaderisasi pemuda Minang.
Surau menjadi pusat pendidikan di Minangkabau, sama halnya dengan di pulau Jawa dengan konsep pesantren. Masuknya Islam ke wilayah Sumatera yang dibawa oleh pedagang, kerap menjadikan surau sebagai tempat persinggahan. Dari sinilah, Islam mulai berbaur dan diterima oleh masyarakat Minangkabau. Fungsinya tidak hanya sebagai tempat tinggal anak bujang dan duda, surau memiliki fungsi baru sebagai lembaga pendidikan. Dimana ilmu agama Islam menjadi pokok ajaran surau. Bangunan yang dimiliki oleh kaum ini menjadi sentra berkembangnya tarekat yang mengajarkan ilmu tasawuf. Melalui tarekat (persaudaraan muslim), pengajaran Islam berjalan tanpa menimbulkan gesekan dengan tradisi yang sudah ada pada masyarakat perdesaan. Tarekat yang terkenal dan berkembang pesat di Minangkabau adalah Tarekat Naqsabandiyah,  Tarekat Syattariyah dan Tarekat Qadiriyah.
Surau Ulakan merupakan bangunan saksi berkembangnya tarekat Syattariyah di Pariaman dan pantai barat Sumatera. Dibawa oleh Syekh Burhanuddin, murid Nuruddin Ar-Raniri, Surau Ulakan menjadi sentral pengajaran Islam di pantai barat Sumatera. Dari surau ini menghasilkan banyak ulama dan menjadi mata rantai perkembangan surau sebagai pusat pendidikan agama Islam. Sebut saja Surau Tuanku nan Tuo di Cangking, Surau Bukit Batabuah di Agam diantara banyak surau yang mengembangkan ajaran Islam melalui Tarekat Syattariyah di Minangkabau. 
Sinkretisme dalam surau, seperti yang disebutkan diatas terjadi saat Islam masuk melalui pranata surau. Tempat pertapaan dan berkumpulnya pemuda untuk mempelajari pengetahuan suci dari kepercayaan yang ada pada masa pra-Islam, beralih menjadi sarana pembalajaran Islam. Pada pagi hari, pemuda-pemuda melakukan zikir dalam setengah lingkaran seperti dalam praktek tarekat yang sudah dikenal. Menurut Christine Dobbin, praktek ini bentuk asimilasi pra-Islam dan masih terasa suasana magisnya.
Penganut tasawuf yang disebut dengan Sufi mendapat pengajaran tentang jalan menuju Allah. Ilmu ini hanya diajarkan ke beberapa murid saja dan untuk melanjutkan pemahaman tasawuf ini pemuda yang ada di surau mencari dan memahami sendiri ilmunya. Porsi terbesar dari pendidikan surau ini adalah memahamkan kewajiban dasar muslim melalui ilmu syariah. Murid dan pemuda-pemuda yang memiliki paham keislaman yang bagus dan kemudian berdawah kepenjuru lain Minangkabau kemudian dikenal dengan urang Siak.
Elizabeth E. Graves mengutip dari sejarah Sumatera, William Marsden menyebutkan keberadaan surau menjadi vital dalam hal pembelajaran Islam dan memraktekkannya. Orang-orang Sumatera yang tidak bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah setidaknya berusaha mengunjungi ssalah satu surau terkenal di ranah Minang, kesan Marsden dalam Sejarah Sumatera. Dalam hal ini bisa kita pahami dan telusuri lebih jauh bahwa proses masuknya Islam membawa perubahan tatanan keyakinan masyarakat yang signifikan. Surau menjadi sentra pendidikan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu agama dan menjadi sarana pembentukan lelaki akil baligh. Lelaki akil baligh ini merupakan lelaki yang sudah siap menempuh proses kehidupan manusia dewasa dan biasanya didorong untuk merantau.
Ajaran Islam yang dipadu dengan mistisisme kepercayaan lama memang menjadi dominan hampir di surau-surau yang ada. Pada perkembangannya, setelah banyak dari pemuda-pemuda yang merantau belajar agama lebih dalam seperti ke Aceh dan Timur Tengah, Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad dipraktikkan dalam lingkungan surau. Masa-masa ini juga beriring dengan kolonialisme dan murid-murid dari Minang mengikuti arus pembaruan Islam di Timur Tengah atau dikenal dengan revolusi Paderi pada abad ke-18. Surau pada masa ini menjadi basis pergerakan perlawanan terhadap kolnialisme Belanda. Pembahasan lebih jauh masa revolusi Paderi akan memiliki pembahasan khusus. 
Agenda lain dalam kehidupan surau adalah berusaha, berdagang dan menggarap lahan. Karena laki-laki yang belum menikah. Aktifitas ini berlangsung siang hari setelah matahari meninggi. Para bujang dan lelaki tua turun ke sawah atau ladang-ladang yang hasilnya menjadi sumber keberlangsungan surau. Hasilnya ada yang di konsumsi sendiri atau di jual di pasar dan diganti dengan barang kebutuhan yang tidak ada di surau. Disini nilai kemandirian dilatih untuk para bujang/ pemuda Minang. Tidak hanya hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan surau gadang (besar) atau surau kecil, produk kerajinan juga menjadi sumber penghidupan surau. Laki-laki tua biasanya menggarap bidang yang ini.  Mereka membutuhkan waktu dan proses untuk bisa produktif dan kerajinan tanganlah yang cocok untuk mereka produksi.
Ilmu beladiri juga menjadi bagian dari bahan ajar di surau. Pengaruh kepercayaan lama dalam beladiri tetap ada dalam surau yang sudah terinfiltrasi nilai Islam. Ilmu kebal masih diajarkan dan kemudian juga diajarkan silat sebagai alat pertahanan diri dan keterampilan ekstra bagi bujang. Kepercayaan lama yang bercampur dengan tradisi Islam dan surau baru adalah cara menetukan hari-hari yang baik juga menjadi bagian pendidikan surau saat Islam ada di Minangkabau. 

Bersambung….

Masjumi dan Jalan Ideologinya

image

Keberadaan Masjumi sebagai partai politik di Indonesia memiliki tempat khusus dari sejarah bangsa ini. Muncul disaat anak bangsa ingin merdeka dibawah keputusan Jepang dan bernama Majelis Islam A’la Indonesia yang kemudian menjadi Masjumi. Hal ini kontroversi awal keberadaan Masjumi yang dipandang sebagai alat Jepang agar bisa tetap bercokol di Indonesia. Masjumipun memanfaatkan kondisi ini untuk mempersiapkan kemerdekaan negara yang sesuai dengan cita-cita mereka.
Perkumpulan yang dimanfaatkan oleh Jepang ini berkembang memperluas jaringannya hingga ke daerah-daerah. Masjumi Jepang ini dipimpin oleh beberapa ulama kharismatik seperti KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab, Ki Bagus Hadikusumo sebagai upaya menarik simpati masyarakat. Setelah kemerdekaan, ulama-ulama ini menjadi bagian  dari partai Masjumi.
Cita-cita ingin menjadikan Indonesia negara Islam merupakan fragmen dari jejak partai Masjumi. Gerak partai ini menjadikan Indonesia negara Islam tertuang dalam piagam Jakarta. Dalam proses pematangannya kata-kata yang mengatur pelaksanaan syari’at Islam terjadi penolakan dalam sidang kedua BPUPKI. Akhir dari tuntutan ini adalah kesediaan wakil Islam dalam struktur PPKI mencabut tuntutan penerapan syari’at Islam dalam negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Penghapusan prinsip ini menjadi nyawa dalam pembentukan identitas awal Masjumi dan energi dalam mengarungi perpolitikan Indonesia yang masih hijau.
Identitas ini tidak menjadi sesuatu yang baku dalam tubuh Masjumi. Remy Madinier dalam buku “Partai Masjumi; Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral” mencoba menghadirkan jalan panjang perjalanan Masjumi dalam kancah politik Indonesia. Sebagai partai besar pada awal kemerdekaan, sikap dan kebijakan Masjumi tercatat tidak selalu berada pada pakem mendirikan negara Islam.
Ketika terjadi pemberontakan DI/ TII dan PRRI yang ingin mendirikan negara Islam, sikap Masjumi berada dalam ranah abu-abu. Natsir sebagai pimpinan partai dan juga bagian dari pemerintah lebih memilih jalan diplomasi untuk meredam pemberontakan. Oleh lawan politik sikap ini menunjukkan politik dua kaki, karena mayoritas penggerak perlawanan di daerah-daerah adalah tokoh-tokoh yang lekat dengan identitas Masjumi. Bisa kita sebut Kartosoewirjo di Jawa Barat, Daud Beureuh di Aceh dan Sjafruddin Prawiranegara sebagai petinggi Masjumi juga bergabung bersama pemerintahan Revolusioner di pedalaman Sumatera.
Madinier juga menyoroti kebijakan-kebijakan Masjumi dalam pemerintahan. Saat negara menghadapi agresi militer, adakalanya kebijakan Masjumi berseberangan dalam pengambilan keputusan dalam perjanjian dengan Belanda di Linggarjati. Tapi saat perjanjian Roem-Royen, Mr. Roem bahkan mewakili Indonesia dalam proses perundingan, notabenenya Roem adalah petinggi di Masjumi.
Kebijakan lainnya yang diterapkan Masjumi adalah dengan membentuk organisasi-organisasi underbouw. Organisasi khusus yang dibentuk seperti Sarekat Tani Islam Indonesia, Sarekat Buruh Islam Indonesia, Sarekat  Nelajan Indonesia. Tujuan dari organisasi khusus ini sebagai upaya mempertegas bahwa Masjumi berdiri tidak diatas landasan elit. Seperti serikat Nelajan bertujuan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan nelayan dan mempertinggi taraf pendidikan nelayan terutama dalam pengajaran penangkapan ikan. Keberadaan organisasi-organisasi ini merupakan upaya konkret perwujudan program Masjumi.
Rekam jejak kepemimpinan Masjumi juga menjadi pembahasan oleh penulis. Dibalik kebesaran Masjumi yang memayungi organisasi-organisasi besar Islam, kepemimpinan Masjumi memiliki kerapuhan. Kerapuhan ini bisa ditebak dari latar organisasi petinggi Masjumi. Soekiman, ketua umum pertama Masjumi memiliki kedekatan dengan kalangan Islam tradisional dan lebih cair dalam komunikasi politik. Berbeda dengan M. Natsir yang berlatar belakang dari Persatuan Islam, lebih kritis terhadap aliran Islam tradisionalis. Perbedaan ini salah faktor pemicu berpisahnya NU dari Masjumi pada tahun 1952.
Masjumi yang secara definitif bubar pada Oktober 1960 bagi banyak orang menyisakan pertanyaan, apa yang menjadi penyebab pemerintah membubarkan Partai Islam ini. Landasan argumen yang sudah lazim kita dengar adalah diberlakukannya demokrasi terpimpin sehingga Masjumi harus disingkirkan agar keputusan ini berjalan dengan baik. Masjumi tidak sendiri menjadi partai terlarang, PSI besutan Sjahrir juga menjadi ‘korban’ keputusan Presiden Soekarno.
Buku ini penting menjadi pegangan dalam memahami politik Indonesia dan kiprah partai Islam saat awal kemerdekaan. Penulis membangun konstruksi dinamisasi Masjumi dalam serpihan yang detail dan lengkap dengan analisis yang mengantarkan nalar kita melihat Masjumi pada eranya. Kita dipaparkan bagaimana menghimpun kekuatan di tengah kondisi bangsa yang masih bayi. Kita juga diajarkan bagaimana membentuk tata kelola partai dan organisasi yang modern dan profesional. Dari sejarah Masjumi kita belajar menjadi ‘kuat dan besar’ dengan idealisme yang rasional ditengah keberagaman politik Indonesia.
Jas Merah….

Yandri Rama

Judul : Partai Masjumi : Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral 
Penulis: Remy Madinier
Penerbit: Noura Book Publising
Tanggal terbit: Agustus – 2013
Jumlah Halaman: 488
Kategori: Islam dan Politik
Text Bahasa : Indonesia